ws rendra

“Anugerah Gusti Allah”

Sering kali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipanNya,
Bahwa rumahku hanya titipanNya,
Bahwa hartaku hanya titipanNya,
Bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi,
Mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
Kuminta titipan yang cocok dengan nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak popularitas,
Dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
Seolah semua ”derita” adalah hukuman bagiku,
Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin ibadah, maka selayaknya derita menjauh dariku,
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
Dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas ”perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan ,
Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… .

”Ketika langit bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”

(WS Rendra)

sebuah renungan dr seorang pujangga…*yg ini beneran..bukan amatir kyk gw*  ;D

Allahumma inni audzubika minal kufri wal fakhri Aku berlindung pada Allah dari kufur dan fakir..aamiin

6 Komentar (+add yours?)

  1. tuti
    Apr 15, 2009 @ 22:40:45

    ta, bagusss banget deh..bener2 bikin gw jd berkaca..

    Balas

  2. anintadiary
    Apr 16, 2009 @ 16:39:00

    @tuti…
    🙂 emang iya ji..makanya lgs gw posting..gw dpt dr email di milis…ampe speachless gw bacanya..asli!😦

    take care ji..salam bwt olit…🙂

    Balas

  3. Rindu
    Apr 17, 2009 @ 09:57:10

    sungguh, setiap kata yang Rendra tulis menjadi hidup ya sist … luar biasa.

    PS: kemarin udah nanya soal titipan temen Ninta, aku jawab via YM nanti ya sist … I love you

    Balas

  4. Jafar Soddik
    Apr 17, 2009 @ 10:37:38

    Sering kali aku berkata
    Aku ini yang kuasa
    Aku dengan segalanya
    Aku serba punya
    Aku memiliki rupa
    yang tiada tara
    Aku memiliki rumah bak istana
    Aku memiliki pembantu lima
    Pokoknya akulah yang ‘ter’

    Tapi aku lupa
    Semua itu kan sirna
    Sekejap mata
    Tak akan tersisa
    walau sedikit pun
    Hanya
    Balutan kain kafan yang lengket di badan
    Kapas yang menyumpal lubang-lubang di badan
    Bantalan tanah sebagai bantalnya
    Dalam ruang kubur yang sempit nan sesak
    Tanpa cahaya
    Ditemani oleh cacing dan belatung yang siap memangsa

    Masih belum mirip ya sama karya WS Rendra😀

    Balas

  5. Rizal
    Apr 17, 2009 @ 11:18:24

    Hmm.. mari menjalankan setiap detik kehidupan ini dengan penuh syukur… ^_^

    Salam untuk Ais ya Bunda ^_^

    Balas

  6. anintadiary
    Apr 17, 2009 @ 12:51:43

    @Rindu…

    ya..thats Mr Rendra…*ngimpi jd kyk blio* ;))

    oh ok..thanks ya sist..ditunggu “buzz” nya😉

    @Jafar Soddik…

    Subhanallah..bagus banget mas…🙂
    *ati2 Mr Rendra, ada saingan niy*

    makasiy udah mampir ya mas…saya betah bgt “manteng-in” blog mas jafar…Subhanallah, adem bgt mas…🙂

    @Rizal…

    ya, bang Rizal benar…Alhamdulillahrobbil’alamiin…segala pujian dan rasa syukur hanya milik Sang Maha Sempurna…

    Wa’alaikumussalam om..makasiy ya…*kata ais* 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: