cintaku..

“Jika cinta adalah ketertawanan, maka tawanlah cintaku hanya pada-Mu, agar  tiada cinta lain yang menawanku”

“Jika rindu adalah rasa sakit, jadikanlah rasa itu untuk aku selalu merindukan-Mu, hingga akhir nyawa meninggalkan raga di hatiku hanya untuk  satu cinta”

“Bila tak bisa ku mencintai-Mu, kemana kusembunyikan wajahku, Bila jumpa dengan-Mu ya Rabbku.”

*sumber: Email Ezza Izuddin di milis tahajud call*

2 Komentar (+add yours?)

  1. Insan
    Mei 06, 2009 @ 17:24:31

    ^_^ Allahu akbar… subnahallah.. tampilan baru ya? Lebih enak dilihat sekarang. Lebih kerasa sejuk. Nampaknya seperti hati Bunda saat ini yang sudah mulai memahami skenario besar Allah untuk kehidupan Bunda dan Ais yang terbaik.

    Udah berapa lama Insan gak bertandang kemari? Maaf ya Bunda, Ujian-ujian hidup yang sedang Insan hadapi, memaksa Insan untuk mengubah sebagian besar milestone-milestone hidup yang telah dirancang sebelumnya. Mudah-mudahan tidak menjadi disoriented. Insan sudah kehilangan banyak plot waktu, tapi mudah2an Allah memberikan momentum yang tepat untuk mengejar ketertinggalan itu.
    *eh.. kok jadi curhat ya… hihihi*

    Cinta. Sebuah kata yang teramat berharga, dengan segala penafsiran dan kenangan kita tentangnya. Cinta kepada Allah membuat dunia tunduk kepadanya. Cinta kepada dunia pasti membuatnya lelah dan nestapa. Bayangkan ketika dalam tasyahud akhir kita mengucap [i]“asyhadu alla illaha ilallahu wa asyhadu anna muhammad ar-rosulullah”[/i], dan jiwa bersumpah dalam hati, “aku bersaksi tiada yang lebih aku [b]CINTAI[/b] daripada Engkau Ya Allah, dan Muhammad rosul yang Engkau turunkan dengan cinta”. Jika kita telah bersaksi DIAlah yang paling kita cintai, lalu pantaskah ketika adzan berkumandang kita melalaikan panggilan cinta-Nya. Pantaskah bila kita yang telah bersumpah bahwa DIAlah yang paling kita cinta lantas kita mengejar cinta dari objek yang belum tentu atau bahkan sama sekali tidak mencintai kita?

    Dan karena cinta itu tak berhenti pada desir hati ataupun ucap kata. Seharusnya ia terurai jadi laku, sempurna seperti pohon. Akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.

    btw.. rindu itu bukan rasa sakit, tapi pemilik nama indah, seindah tulisan-tulisannya, sekilau mutiara Meutianya, seteguh jiwa Istiqomahnya. *loh… komen gak fokus* Titip salam ajah buat tuan putri.

    Balas

    • anintadiary
      Mei 08, 2009 @ 09:43:20

      Alhamdulillah kang…sedang mencoba melihat dr sisi lain kehidupan…ternyata aku menemukan CINTA itu..cinta nya Allah…
      ah, masih belajar kang…semoga skenarionya cepet hapal..hehe…*syuting sinetron mode on*

      eniwei kang, ternyata hari2 ini mmg cocok untuk contemplate yah?me either…udah lama ga py ide utk posting lagi…anyak hal indah dan terlalu besar utk bisa dituangkan…hehe…ga ding, emang lagi stagnant aja..semoga ga lama…🙂

      take care kang…semoga selalu bersama Allah dlm setiap langkah..aamiin…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: