Cinta Sang Maha Pencinta

Suatu hari, seorang laki-laki bertanya kepada temannya. Ia bertanya tentang satu hal yang telah menjadikan setiap detik dalam hidup ini begitu berharga.Ya, laki-laki itu bertanya tentang hakikat cinta yang sebenarnya. Dan,temannya itu pun menjawab,

“Cinta itu bukan sebuah kata biasa, ia tidak dapat terdefinisikan oleh kata yang lain. Namun, yang aku tahu, cinta itu adalah sebuah dorongan memberi yang sangat kuat tanpa sedikit pun rasa pamrih. Cinta tak dapat dilukiskan dengan kata, tapi kamu bisa merasakan keberadaannya.

Cinta itu ibarat sungai yang bermuara dari sebuah mata air, lalu ia mengalir dari hulu ke muara. Ia mengairi sawah-sawah petani, alirannya menjadi tenaga penggerak generator untuk menghasilkan listrik. Hingga akhirnya ia turun dan mengembara di samudera yang luas. Begitulah cinta, memberikan manfaat. Namun jika ia berlebihan, layaknya air yang membanjiri seisi kota dan menenggelamkan manusia ke dalamnya. Ia bisa sangat berbahaya.

Cinta itu seperti udara, kamu tak bisa hidup tanpanya. Ia tidak terlihat, tapi kamu bisa merasakan kehadirannya. Begitu bermakna ia di dalam setiap detik dalam hidupmu.

Cinta itu seperti langit, luas dan indah, dengan bintang-bintang, bulan, matahari, dan semua benda yang menghiasinya. Ketika kau memperhatikannya, maka kedamaian dan ketenangan akan menghampirimu. Kau tak bisa menyentuhnya, tapi kau akan merasa hatimu tersentuh dengan melihatnya dan seketika sadar betapa kecilnya engkau.

Cinta itu seperti matahari, sinarnya menyinari bumi. Hangatnyalah yang membuat manusia bisa tumbuh berkembang, tumbuhan bisa berfotosintesis. Cahayanya yang terang menjadi pelita bagi kehidupan di bumi.

Namun, tidaklah sempurna cinta seseorang, jika cintanya itu bukan berasal dari Yang Maha Mencintai. Perasaan cinta yang lahir sebagai bentuk interpretasi dari cinta yang diberikan oleh Yang Maha Mencintai, itulah cinta yang hakiki. Sebuah bentuk cinta yang di dalamnya akan memunculkan kasih dan sayang, karena ia memang berasal dari Yang Maha Pengasih dan MahaPenyayang. Itulah cinta yang diberkahi. Itulah cinta para penghuni surga.

Akan tetapi, sangatlah hina perasaan cinta yang dimiliki seseorang jika cintanya itu hanya merupakan gumpalan hawa nafsu yang ia balut dengan kain ketulusan cinta. Sungguh merugi orang yang seperti itu. Cinta yang ia rasakan bukannya mendekatkan ia dengan Yang Mahadekat, namun malah mendekatkan ia dengan azab yang dekat. Dan itulah seburuk-buruk cinta. Cinta seorang penghuni neraka.

Tidak jarang seseorang mengatakan kepada orang yang ia cintai, bahwa ia tulus mencintainya. Namun apa artinya sebuah cinta yang tulus, jika semua itu hanya omong kosong belaka? Apa arti cinta yang tulus, jika itu tidak membawamu ke surga?

Sadarlah!!! Sesungguhnya saat ini sedang menanti suatu Dzat yang Maha Pencemburu dan Maha Menyayangi, yang dengan sabar menanti sebuah kata cinta yang engkau panjatkan di selepas kegiatanmu. Sesungguhnya saat ini Ia menunggumu. Menunggu ucapan syukur darimu atas kehidupan yang Ia beri untukmu. Sebenarnya Ia tak rela jika engkau mencintai selain dariNya. Karena memang, Dia-lah yang telah menciptakan bumi dan langit serta apa yang ada di
antara keduanya dengan cinta.

Maka, cintailah Ia, kemudian Ia akan memasukkanmu ke dalam surganya di akhirat nanti. Dan memberikanmu suatu tempat yang mulia di sisiNya, serta kenikmatan yang matamu tak pernah melihatnya, telingamu tak pernah mendengarnya, dan tak akan pernah terbayangkan olehmu wujudnya.

Sekarang, akan ke manakah pilihan cinta itu akan jatuh? Apakah ke dalam cinta yang hakiki atau cinta yang membuat kita jatuh ke dalam api? Semua itu
ditentukan oleh hatimu sendiri.”

Dan, laki-laki itu pun mengangguk sebagai tanda memahami apa yang
didengarkannya.

Judul asli: Cinta yang Maha Mencintai, oleh ilham muhammad

so so so..Inspiring….so so…make my tears fallin’ on this beautiful day…I Love You Allah…let me Love You..let me…*tears*

3 Komentar (+add yours?)

  1. Insan
    Jun 26, 2009 @ 21:27:21

    Assalamu ‘alaikum bunda..

    Cinta lagi? ^_^

    Di dunia ini ada air yang mengerti jalan pulang. Ia menjatuhkan dirinya dari atas lereng curam. Terjun menghantam kolam luas membentang. Sebagian butirannya menguap membentuk lengkung pelangi, yang lain terus mengalir…

    Air itu terus mengalir, jernih menyapa bebatuan. Menyuburkan yang mati, menyegarkan yang gersang. Dan ia pun akhirnya dapat kembali pada hakikatnya, di lautan.

    Namun ada air yang tak tahu kemana dia harus pergi. Dia hanya diam. Tak heran tempatnya pun sempit kecil. Dan tempat sempit itu akhirnya menjadikannya air kotor dan berbau busuk.

    Itulah beda antara orang yang cintanya tertuju pada Sang Maha Pecinta dengan orang yang cintanya hanya sebatas tatapan mata.

    Insan pamit dari dunia per-blogging-an ya. Tapi yakinlah, Insan akan tetap mengalir… Karena Insan ingin tetap jernih dan bermuara di lautan. Sampai ketemu bunda… ^_^

    Balas

    • anintadiary
      Jun 27, 2009 @ 09:13:50

      Wa’alaikumussalam kang Insan…

      serius ya mau brenti ngeblog…duh sayang bgt..tulisan2 akang byk meng inspired lho..beneran!

      tp msh mau mampir khan?nanti rmh ku sepii dong..bs2 Ais protes…*huhuhuhu….*

      Balas

    • Jafar Soddik
      Jun 30, 2009 @ 13:21:53

      Pada pamitan semua dari dunia blog, fenomena apa ya ini? Hehe

      Dengan atau pun tanpa media blog, tetap lanjutkan dakwah di segala bidang dan tetap jaga tali ukhuwah🙂

      Semoga cinta itu tetap ada dan bersemi di antara kita (cinta dan bersahabat karena Allah)🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: