Muara Kedamaian (Chapter 4)

“……dan ALLAH Yang Maha Sempurna Sungguh2 telah mengetahui potensi sesat makhluknya yg berjenis manusia, bahwa makhlukNYA yang penuh khilaf ini ga henti2 nya berdebat akan waktu datangnya hari kiamat….suatu perkara yang hanya DIA Yang Maha Mengetahui. Jelas dalam firmanNYA, di Qur’an Kariim Surat Al Mulk ayat 26,” Qul inna maal ‘ilmu indallah.inna maa ana nadzirummubiin” Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnya ilmu (ttg hari Kiamat) adalah urusan ALLAH, aku hanyalah pemberi peringatan…Maha Benar ALLAH…Semoga seluruh raga dan jiwa kita diberkahi ALLAH, sehingga mampu dan mau menerima semua peringatan NYA…aamiin….”

Kahfi masih tertegun pada ayat indah yg didengarnya dari Ustadz Azzam, Ustadz muda, sahabat sekaligus gurunya…Ah, Surat Al Mulk selalu membuatnya tertegun, pantas Ust Azzam mendesaknya utk segera ikut menghafal, bersama jamaahnya yg lain…hmm, mesti diniatkan benar2…Insya ALLAH diaawal Ramadhan ini…

tepukan lembut dipundaknya membuyarkan lamunan Kahfi…Ustadz Azzam merangkulnya dgn senyum lebar, “Ah, Brother, smua sdh plg, dari tadi saya liat, kyknya jd banyak melamun niy ente, what’s up, bro?”

“Ah, bisa aja Ustadz, td tausiahnya ngena bgt, tadz.jd inget utang hafalan hehehe…Insya ALLAH mulai hr ini, gpp khan tadz?”

“At-Tabarok maksudnya?sure, mulai aja, fi…Insya ALLAH pertemuan mgu depan ente bs setor 7 ayat pertama. siap?”

“Insya ALLAH tadz”

“ok, soal hafalan beres, skrg ente bs cerita, darimana datengnya lamunan2 itu?kliatannya ada hal berat bgt, mau cerita?sambil ngopi deh ya”, Ustadz Azzam menggiring Kahfi ke bagian belakang rumahnya, tempat biasa mereka bertukar pandangan, dari soal agama, sampai ke soal pribadi. Buat Ustadz Azzam, Kahfi bukan cuma seorang jamaah, sahabatnya ini ditemuinya dlm keadaan putus asa, bergelimang harta dan pujian, namun jiwanya hampa

Sejak awal, banyak sekali pertanyaan tentang Islam terlontar dari bibir Kahfi, bahkan sempat terbetik dugaan, sepertinya telah sekian lama terpendam di dadanya. Mengenalnya sejak sama2 di SMP Swasta di Bandung, meski beda tingkat, Kahfi adalah jenis pemuda yang setiap wanita akan bertekuk lutut karena ketampanan dan kharismanya. dan seperti yg ia duga, kelemahan Kahfi ada pada Makhluk ALLAH yg satu itu, meski Hidayah ALLAH 3 tahun ini benar2 membuat Ustadz muda ini terus memuji ALLAH, Subhanallah, kini di hadapannya, duduk bersila seorang laki2 Sholeh, yg ketampanannya bersinar karna tetesan air wudhu dan dzikir di sela bibirnya. Subhanallah

“Kahfi, mau minum apa nih?biar nanti uminya Zahra yg buatkan. mi, bikinkan abi kopi ga pake krim, Kahfi?

“sama saja Ustadz”, jawab Kahfi kalem

tak lama, seorang wanita berjilbab dgn wajah lembut keibuan mendekat dengan 2 cangkir kopi hitam. “Silahkan bi, ayo Kahfi, diminum”

“Terimakasih Umi Zahra, maaf merepotkan terus”, sapa Kahfi pada wanita yg sudah ia anggap kakak perempuannya, menggantikan kakaknya semata wayang yang telah menetap di negeri paman sam sana, Ah, ingat Becky dan hidup liberalnya bikin Kahfi geram, tinggal dia, keluarga tercintanya yg menolak disentuh hidayah ALLAH. Hmmmph, Semoga ALLAH membuka hati Becky

“Ah, Kahfi, makin muram aja kyknya ente punya muka, knp, ingat kakakmu lagi?serahkan pada ALLAH, fi, jika tidak dikehendakiNYa, bahkan Rasulullah, Kekasih yang paliing dicintaiNYA pun ga mampu memberi hidayah pada paman yg paling dikasihinya. Serahkan semua pada ALLAH, yg penting ikhtiar. dan ikhtiarmu, Insya ALLAH sudah maksimal”, kata Ustadz Azzam panjang lebar, seperti mampu membaca pikiran Kahfi

“Iya Ustadz, setiap kali ketemu Umi Zahra, jd ingat dia. hmmm, ga ngerti Ustadz, belakangan ini rasanya banyak hal yg ngebebani pikiran saya. jd ruwet”

“fi, setiap yang berjiwa, ALLAH titipkan masalah padanya. tinggal gimana setiap jiwa menyikapinya. mau dibawa susah bisa…dibawa senang juga bisa…yg paling bener mah, ngadu sama yg ngasih masalah. gmn tahajudmu, fi?msh istiqomah?”

“Alhamdulillah, Ustadz, masih terjaga.Insya ALLAH seterusnya”

“Alhamdulillah. tambah rakaatnya. tilawah setelahnya”

“Insya ALLAH, ustadz. hmmm, sbnarnya ada beberapa pertanyaan, tadz, bikin pening”

“hmmm, apa itu?”

Lagi