Bulan di Tepian hati (Chapter 9)

Usai shalat shubuh pagi itu, Zaskia tampak sudah sibuk di dapur, ditemani mama dan bik Amah. Sesekali sambil mengaduk panci berisi opor, Zaskia melirik jam dinding.

“Ma, Zaski tetap ke kantor ya, aku janji mau ketemu orang, tapi ga lama koq, habis makan siang, Zaski langsung pulang”, kata Zaski sambil mengecek piring dan sendok yang tengah dicuci bik Amah

“Iya, gapapa Zas, biar mama sama bik Amah yang atur semuanya. Oya, kamu udah bilang mas Banyu khan?semalam dia ga pulang, katanya ada pemotretan”, kata mama Zaski, wanita separuh baya ini tampak lebih muda dari umurnya, tak cuma mata indah yang diwarisinya untuk anak perempuan sematawayangnya, namun Zaskia juga diwarisinya hati yang lembut sekaligus tegar, beliaulah pelabuhan terindah kedua anaknya, Banyu yang sukses dengan profesinya sebagai fotografer profesional, dan Zaskia, permata hati yang telah menganugerahinya seorang cucu kebanggaan, Ajma. Bagi Ibu Artianty, hidupnya terasa lengkap, meski tak putus doanya berharap kedua anaknya segera menemukan jodohnya.

“Hmm, udah ma, kemarin malam Zaski ud bilang mas Banyu. Eh ma, mama udah kenal ya sama temennya mas Banyu, namanya Sasha. Siapa sih dia ma?Zaski liat fotonya di kamarnya mas Banyu, manis juga, berjilbab lho ma. Sejak kapan selera mas Banyu berubah ya?hihihi”, kata Zaski sambil melingkarkan tangannya pada tubuh gempal mama yang tengah menyiangi sayuran

“Hahaha…kamu bisa aja Zas. Bagus dong kalau masmu suka sama perempuan shalihah, koq malah diledeki?”, senyum mama sambil terus dengan pekerjaannya

“Hehe, iya iya ma, tapi heran aja. Eh ma, nanti Zaski undang Dennis sama istri dan babynya, namanya Deavo, mama belum liat khan?oya, trus ada kenalannya Ajma, namanya Kahfi”, cerita Zaskia sambil lalu, meski tak urung hatinya sedikit bergetar. Baru kali ini ia cerita tentang Kahfi

“Kahfi?itu bukan laki-laki yang nemuin Ajma waktu hilang di mal ya?wah bagus itu, mama pengen kenal, ya kali aja cocok sama kamu”, kata mama menggoda

Sontak, memerah wajah Zaskia. Sambil masih bergelayut manja, Zaskia berusaha menyembunyikan kekikukannya, “ah, mamaaa, Zaski undang karna Ajma. Pas Zaski kasih tau kalau si om Afi nya itu mau datang, dia ga berhenti lompat-lompat, duh, genit begitu turunan dari yangti nya deh kayaknya, hihihihi”

“Hush, sembarangan. Udah sana kamu siap-siap, bangunin Ajma, sebentar lagi jemputannya datang, kamu ke kantor bawa mobil aja Zas, biar cepet pulangnya. Khan kamu mesti ambil lumpianya tante Enno di pondok indah”

“Iya deh ma, makasih udah mau repot ya mama sayang, buka puasa kali ini pasti hebat sama lontong cap gomeh mama. Hmmm, si Dennis udah ribut dari kemarin, kayak yang puasa aja.hahaha…”, kata Zaskia sambil mengecup pipi mamanya

Tiga jam kemudian, Zaskia sudah tenggelam pada kesibukannya di kantor, sampai sebuah sms mengagetkannya,
“Assalamu’alaikum Zaskia, aku sudah terima sms alamat rumah kamu. Insya ALLAH aku datang sore nanti. Boleh aku bawakan puding caramel buatanku? Tidak terlalu enak sih, tapi lumayan lah buat tambahan berbuka. Salam untuk Ajma,saya sudah ga sabar ingin bertemu Ajma dan bundanya. Salam, Kahfi.”

Lagi

Detak Jiwa (chapter 8)

Sore yang indah di awal Ramadhan mulia…Kota Metropolitan berdenyut cepat bersama sesak penghuninya, mendesak, bergerak seirama lajunya derap hati…saat setiap hati berharap segera sampai di rumah, dimana Ramadhan terkecap indah dalam hangatnya kekeluargaan

Seorang wanita dalam hijab panjangnya asyik larut dalam tilawah, bersama Quran kecil dalam dekapan tangan halusnya, suara lembutnya berbisik meski tak tertangkap telinga, mengalun indah, seindah surat cinta yang tengah didalaminya

Sejenak kepalanya terangkat, memandang senja yang hampir turun dari jendela bisnya yang terbuka lebar. “Hampir buka”, bisiknya dalam hati. Ciut hatinya menyadari, bisnya benar-benar berhenti sejak 10 menit yang lalu, sejak ia memulai surah AN NUUR, tadi. Macet hari ini benar-benar parah. Menguap sudah keinginannya buka bersama gadis kecilnya di rumah, bisa dipastikan jika terus macet begini, baru 1 jam lagi ia memasuki kota Depoknya.

Zaskia, wanita berhijab itu, menghela nafas panjang. Dibisikkan akhir kalamnya dengan “Maha Benar ALLAH dengan segala FirmanNYA”, dan menutup Quran kecilnya. Ia keluarkan botol minuman dan kotak berisi Kurma dari tasnya, dan bersiap berbuka. Teringat ia akan sabda Rasul, sebaik-baiknya hamba berpuasa, ialah yang mengakhirkan sahur dan mensegerakan berbuka. Subhanallah, indahnya Islam mengatur ibadah mulia ini.
Lagi

Senandung Cinta (Chapter 7)

Pagi di kota singa, Singapura

Seorang pemuda melangkahkan kaki tak tergesa, menyusuri jalan terfavorit di kota itu, Orchad Road. Bibirnya komat-kamit berzikir dalam hati, dan wajahnya yang tampan khas asia, tampak sedikit lelah

Seminggu sudah Kahfi ditugaskan kantornya ke kota itu. Ini hari terakhirnya. Meeting dengan seorang calon klien dan presentasi tak berkesudahan minggu ini ditutupnya dengan kontrak bernilai besar, sebuah prestasi yang cukup baik, begitu puji Managing Directornya ketika Kahfi menelfon memberi laporan

Dan hari ini, sebelum jadwal penerbangannya sore nanti, Kahfi beniat mencari beberapa buku dan oleh-oleh untuk orangtua dan gurunya, seperti yang biasa Kahfi lakukan setiap kali bertugas ke luar negeri

Pagi itu, jalan terkenal itu belum terlalu disesaki manusia yang lalu-lalang, Pukul 09.30, dan Singapura baru menggeliat bangun dari tidurnya. Kahfi berjalan santai menyusurinya, sambil sesekali mengecek email dari smartphone di tangannya.

Sampailah Kahfi di sebuah Mall, seingatnya, ada toko buku besar di lantai 2. Begitu memasuki mall tersebut, ada sebuah toko yang menarik perhatiannya, sebuah toko jam mewah, dan di eletase depan yang memajang puluhan jam, ada sebuah jam wanita yang cantik dengan merk terkenal. Tiba-tiba Kahfi teringat pada wanita yang baru saja di sms nya, Zaskia. “Apa pantas kalau ku belikan jam ini?”, bathin Kahfi. Ia takut Zaskia malah jadi tersinggung.
Lagi

senada cinta (chapter 5)

“bundaaaaaaaaaaaaaaaaa…….!!!bundaaaaaaa……!!”,teriakan melengking dan panjang, khas gadis kecil membahana seantero rumah, saat matahari belum sempurna memamerkan keindahannya

Zaskia membuka sebelah matanya, menyadari benar, suara menganggu itu milik permata hati satu2nya, Ajma. Namun, kantuk yg belum sempurna tertuntaskan membawa Zaskia kembali ke alam mimpi…

“Bundaaaaa!!!Banguuuunnnn!!Banguuuunn!!Bangguuunnn!!!”, kini suara itu mendesak dan ga lama berubah menjadi rengekan, “Bundaaaa, banguunnn, huhuhu….banguuunnn…”

Tersenyum Zaskia, meski kedua matanya masih rapat terkatup.”Mmmppphhh…iya sayaaang, bunda lg pgn males2an niyy, khan libuuurrr.kenapa siy sayaang?Ajma mau apa?”

“Bundaaa, banguun duluu, liat niyy Ajma udah cantik, mau ajak Bunda jalan2”

“Ha?”, kini Zaskia benar2 bangun, terduduk, dan baru menyadari, ia tertidur dengan mukena dan sarungnya, ah, rupanya ia tertidur sehabis Shalat Subuh tadi. “Jalan2????”, kemana sayaang?”

“kemana aja”, sahut Ajma kenes. “ke rumah Opa Bule boleh”, Jawab Ajma lagi, kali ini dengan senyum lebar

“Opa Bule?”, Ah, hampir Zaskia lupa,  itu sebutan Ajma utk Mr Matthew, bosnya.”Lho, koq bisa tau kt mau ke Opa bule, pumpkin? khan bunda blom cerita”

“hehehehe…tadi hp bunda bunyi dari opa bule, Ajma angkat, kt opa bule, cepet bangunin bunda, trus ke rumah opa bule, oma bule juga ngomong, trus Ajma udah dibeliin boneka sama gula2 bulet yg besar, warnanya pink. ya udah, Ajma bilang, oke”, jelas Ajma panjang lebar

“Yaaa ampuun, Ajma…koq udah oke aja, blom tanya bunda?trus kt naek apa kesana?”

“mobil yangti aja”, sahut Ajma dgn entengnya mengusulkan mobil mama Zaskia, eyang putrinya

“hmmm, udah tanya yangti blom?nanti klo mobilnya dipake, gmn?”

“Aku udah tanya yangti, boleh katanya”, jawab Ajma tenang

“hahahhaha…iya deh, bunda nyerah, anak bunda mau jadi apa siy?pinter amat ngatur2 bundanya xixixixixi”

“mau jadi bos!”, sahut Ajma sambil melompat2

“hahahhahaha…aamiin…bos yg shalihah yaa. yaudah, bunda mandi, dhuha, trus kita brangkat yah. ntar kt mampir ke Margo, beli kue utk opa n oma bule, setuju bos kecil???”

“setujuuu bunda bos…xixixixixi”, kini yg terlihat hanya kuncir kudanya yg menari2, Ajma sudah menghilang dibalik rumah2an bonekanya

Zaskia tersenyum lebar. Makin hari  ia selalu dibuat terpana, gadis kecilnya sudah mulai besar, sudah punya cita2, sudah pinter ngatur bundanya, “gawat, pikir Zaskia, bisa kalah set lama2 bundanya hehehhe”.

mesin mobil mungil itu mengaum pelan,  membawa 2 penumpangnya melintasi Jalan Margonda, menuju mall terbesar di kota itu,  seperti niat mereka, mencari buah tangan utk pasangan yang akan mereka kunjungi

Ajma ga henti2 berceloteh, sementara Zaskia mengangguk2 senada ocehan putri kecilnya sambil melantun zikir paginya dalam hati.

sepagi itu mall sudah padat pengunjung. Dua perempuan cantik, bergandengan tangan menuju counter donat tepat di kanan atrium mal itu, dimana sedang berlangsung pameran mainan merk ternama, lengkap dengan acara panggung boneka, sehingga panggung dipadati anak2 kecil dengan celotehan2nya. ribut sekali

“Ajma, abis beli donat langsung pergi ya sayang, biar ga kesiangan, khan Ajma mau brenang di rumah oma bule”, bisik Zaskia ke telinga mungil Ajma

“mmmm….liat boneka, boleh?” Ajma menjawab dgn muka memelas, sejak masuk mal, matanya ga lepas dari panggung boneka itu

“boleh, tp Ajma ga bs brenang klo udah siang. terserah, it’s ur choice”.

“mmm, iya deh, Ajma mau brenang”, putus Ajma, meski wajahnya berubah masam, “ga bs dua2nya ya bunda?”

“sorry hunny, next time aja liat bonekanya, ya,”kata Zaskia lembut sambil mencium kedua pipi gadis kecilnya

sedetik, Zaskia sibuk memilih donat dan membayar di kasir, seperti pesannya, Ajma mengikuti Zaskia dari belakang, meski kepalanya terus menengok ke arah panggung

“ok, Ajma, yuk pergi”, tanpa menoleh, Zaskia menggapai ke sampingnya, tempat Ajma sedari tadi mengekori.

namun, tangannya menggapai udara

Lagi

Muara Kedamaian (Chapter 4)

“……dan ALLAH Yang Maha Sempurna Sungguh2 telah mengetahui potensi sesat makhluknya yg berjenis manusia, bahwa makhlukNYA yang penuh khilaf ini ga henti2 nya berdebat akan waktu datangnya hari kiamat….suatu perkara yang hanya DIA Yang Maha Mengetahui. Jelas dalam firmanNYA, di Qur’an Kariim Surat Al Mulk ayat 26,” Qul inna maal ‘ilmu indallah.inna maa ana nadzirummubiin” Katakanlah wahai Muhammad, sesungguhnya ilmu (ttg hari Kiamat) adalah urusan ALLAH, aku hanyalah pemberi peringatan…Maha Benar ALLAH…Semoga seluruh raga dan jiwa kita diberkahi ALLAH, sehingga mampu dan mau menerima semua peringatan NYA…aamiin….”

Kahfi masih tertegun pada ayat indah yg didengarnya dari Ustadz Azzam, Ustadz muda, sahabat sekaligus gurunya…Ah, Surat Al Mulk selalu membuatnya tertegun, pantas Ust Azzam mendesaknya utk segera ikut menghafal, bersama jamaahnya yg lain…hmm, mesti diniatkan benar2…Insya ALLAH diaawal Ramadhan ini…

tepukan lembut dipundaknya membuyarkan lamunan Kahfi…Ustadz Azzam merangkulnya dgn senyum lebar, “Ah, Brother, smua sdh plg, dari tadi saya liat, kyknya jd banyak melamun niy ente, what’s up, bro?”

“Ah, bisa aja Ustadz, td tausiahnya ngena bgt, tadz.jd inget utang hafalan hehehe…Insya ALLAH mulai hr ini, gpp khan tadz?”

“At-Tabarok maksudnya?sure, mulai aja, fi…Insya ALLAH pertemuan mgu depan ente bs setor 7 ayat pertama. siap?”

“Insya ALLAH tadz”

“ok, soal hafalan beres, skrg ente bs cerita, darimana datengnya lamunan2 itu?kliatannya ada hal berat bgt, mau cerita?sambil ngopi deh ya”, Ustadz Azzam menggiring Kahfi ke bagian belakang rumahnya, tempat biasa mereka bertukar pandangan, dari soal agama, sampai ke soal pribadi. Buat Ustadz Azzam, Kahfi bukan cuma seorang jamaah, sahabatnya ini ditemuinya dlm keadaan putus asa, bergelimang harta dan pujian, namun jiwanya hampa

Sejak awal, banyak sekali pertanyaan tentang Islam terlontar dari bibir Kahfi, bahkan sempat terbetik dugaan, sepertinya telah sekian lama terpendam di dadanya. Mengenalnya sejak sama2 di SMP Swasta di Bandung, meski beda tingkat, Kahfi adalah jenis pemuda yang setiap wanita akan bertekuk lutut karena ketampanan dan kharismanya. dan seperti yg ia duga, kelemahan Kahfi ada pada Makhluk ALLAH yg satu itu, meski Hidayah ALLAH 3 tahun ini benar2 membuat Ustadz muda ini terus memuji ALLAH, Subhanallah, kini di hadapannya, duduk bersila seorang laki2 Sholeh, yg ketampanannya bersinar karna tetesan air wudhu dan dzikir di sela bibirnya. Subhanallah

“Kahfi, mau minum apa nih?biar nanti uminya Zahra yg buatkan. mi, bikinkan abi kopi ga pake krim, Kahfi?

“sama saja Ustadz”, jawab Kahfi kalem

tak lama, seorang wanita berjilbab dgn wajah lembut keibuan mendekat dengan 2 cangkir kopi hitam. “Silahkan bi, ayo Kahfi, diminum”

“Terimakasih Umi Zahra, maaf merepotkan terus”, sapa Kahfi pada wanita yg sudah ia anggap kakak perempuannya, menggantikan kakaknya semata wayang yang telah menetap di negeri paman sam sana, Ah, ingat Becky dan hidup liberalnya bikin Kahfi geram, tinggal dia, keluarga tercintanya yg menolak disentuh hidayah ALLAH. Hmmmph, Semoga ALLAH membuka hati Becky

“Ah, Kahfi, makin muram aja kyknya ente punya muka, knp, ingat kakakmu lagi?serahkan pada ALLAH, fi, jika tidak dikehendakiNYa, bahkan Rasulullah, Kekasih yang paliing dicintaiNYA pun ga mampu memberi hidayah pada paman yg paling dikasihinya. Serahkan semua pada ALLAH, yg penting ikhtiar. dan ikhtiarmu, Insya ALLAH sudah maksimal”, kata Ustadz Azzam panjang lebar, seperti mampu membaca pikiran Kahfi

“Iya Ustadz, setiap kali ketemu Umi Zahra, jd ingat dia. hmmm, ga ngerti Ustadz, belakangan ini rasanya banyak hal yg ngebebani pikiran saya. jd ruwet”

“fi, setiap yang berjiwa, ALLAH titipkan masalah padanya. tinggal gimana setiap jiwa menyikapinya. mau dibawa susah bisa…dibawa senang juga bisa…yg paling bener mah, ngadu sama yg ngasih masalah. gmn tahajudmu, fi?msh istiqomah?”

“Alhamdulillah, Ustadz, masih terjaga.Insya ALLAH seterusnya”

“Alhamdulillah. tambah rakaatnya. tilawah setelahnya”

“Insya ALLAH, ustadz. hmmm, sbnarnya ada beberapa pertanyaan, tadz, bikin pening”

“hmmm, apa itu?”

Lagi

Rembulan bertasbih (chapter 3)

Matahari beranjak menuju peraduannya…

Zaskia  menghela nafas panjang sambil membereskan beberapa dokumen yg berserakan di meja mungilnya. wajahnya terlihat lelah, seharian ia disibukkan oleh banyak hal yg harus disiapkannya utk acara besok, sebuah fashion show utk koleksi terbaru perusahaannya, yang telah hampir 10 thn memegang lisensi merk jam ekslusive yang diproduksi di switzerland

sesaat Zaskia melirik jam tangan di pergelangan kirinya, “Ah, sudah hampir Maghrib”, desisnya. telfon di mejanya berkedip-kedip, pertanda Mr Matthew memanggilnya ke ruangan kerjanya. “It’s about time”, secepat kilat Zaskia memasuki sebuah ruangan terbesar dan termewah di gedung ini

“Malam Zaskia”, suara bariton menyambutnya dari balik sebuah meja jati besar. Ruangan itu terkesan cozy dengan banyak sofa namun unik karena dijejali dengan banyak barang antik yang ditata cantik, namun tetap terkesan maskulin. sebuah perpaduan yang menarik, mencerminkan karakter pemiliknya

“Malam, pak”, tersenyum Zaskia duduk di hadapan bosnya sambil menyerahkan berkas2 yang telah rapi disusunnya. “Acara besok, Insya ALLAH  berrresss pak”

“Sure, pasti beres sama kamu, Zaski. model yg saya minta, sudah oke khan?”, gumam sang bos,  sambil membuka dokumen yg diserahkan Zaski.

“Oke pak. Catering, MC, dan undangan juga sudah fix, ada di dokumen itu, besok jam 9 gladi resiknya. Hmm, ada lagi pak?”

“oh, ga. sudah bener2 beress berarti. really like the way u work, Zaski, very efficient. only in 1 day?god job, kiddo!”

Terseyum Zaskia mendengar sang bos menutup pujiannya dengan memanggilnya, kiddo. Mr Matthew selalu menganggapnya seperti anaknya sendiri. 5 tahun menjadi asistennya, dan Zaski merasa memiliki keluarga baru

“hmm, kalau begitu, saya boleh pulang, sir?”, tanya Zaskia dengan wajah berharap

“Lho, ga tunggu Maghrib, Zaski?saya rasa masih setengah jam lagi?”

“Ya, pak, habis Maghrib”, Sang Bos benar2 hafal kebiasaannya jika lembur

“Ah, ya, bagaimana kabar Ajma, really miss that pretty ‘lil girl of yours” , wajah laki-laki setengah baya itu mendadak penuh semangat

“Ajma Alhamdulillah sehat, pak. iya, sudah lama tidak saya bawa ke kantor, sedang sibuk adaptasi pak, sekolah baru”

“ya, ya, it wont take so long, Zaski, she’s very smart, just like her mom. u know, my wife always ask about her, Zaski. Maybe u should take her to our house this weekend. mau ya Zaski?her Opa and Oma miss her so much”, kali ini, wajah sang Bos yang penuh harap

Lagi

zaskia, sebuah nama (chapter 1)

di sore yang indah di bumi ALLAH,

Zaskia menyeruput pelan mocca-latte favoritnya sambil berkata dalam hati, “Ah, Robbiy…terlalu banyak hal besar yang tak kusyukuri, terlalu banyak hal kecil yang ku keluhkan…terimakasih untuk kopi nikmat dan waktu luang…” berusaha keras perempuan manis ini menekan keinginannya mengeluh..lagi-lagi keningnya berkerut, memperjelas kerutan halus yg mulai timbul di ujung matanya…

tak disadarinya, seorang pemuda berkemeja coklat memandangnya dari kejauhan. telah lama ia perhatikan wanita manis berjilbab yang sedari tadi anteng duduk sendiri di sofa single sambil menyeruput kopi panas itu…”hmmm, menarik…”desisnya. sedetik tak mengerti, apanya yg menarik..well, profesinya sebagai seorang executive EO di ibukota memaksanya bertemu dengan wanita2 yang lebih menarik, yang pasti, cantik dan sexy…dan wanita itu?rapat terbungkus baju panjang dan jilbab merah muda…tapi entah kenapa, ada rasa teduh saat memandangnya…dan ah, kerut di dahinya, ingin rasanya memeluk dan menenangkan hatinya, apapun akan ia lakukan utk melihat senyum wanita itu…ah, pasti cantik…ups, lagi2 ia terpana, bodoh, belum kenal sudah pikir macam2…” sambil tersenyum kecil, laki2 itu kembali pada barisan tulisan di laptop mungilnya, kembali pada laporan penting yg harus ia kirim via email ke seorang klient penting di london sana.

dan zaskia, masih merenung…sebuah kejadian di kantor hari ini membuatnya terhenyak…tak menyangka, kelembutan hatinya ditafsirkan berbeda…dan ini bukan yang pertama…”Ah, serba salah, desis hatinya, ALLAH menganugerahinya suara lembut dan hati yang tidak ingin menyakiti siapa pun,siapa pun…tapi kali ini, benar2 menjadi bumerang baginya. keningnya semakin berkerut dan butiran bening perlahan mengaliri hidung bangirnya. dia menangis dalam diam

bagi org yang baru mengenalnya, tak kan mengira, wanita bertubuh mungil ini telah mengalami banyak  pelajaran hidup. pernah mencintai sepenuh hati dan dikhianati segenap jiwa.menikah dan berpisah, menegarkan jiwa bersama seorang gadis mungil yang memanggilnya, bunda.

3 tahun yang panjang dan penuh hikmah. ya, hidup mengajarkannya bersabar dan mengambil hikmah.

dia bukan wanita tanpa pesona. tak sedikit laki2 rela menyerahkan apapun untuk mendapatkan hatinya, meski tak sedikit laki2 yang mendapatkannya justru menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping, dan kelelahan jelas terbayang di wajah manisnya, sore itu

ya, lelah…

dihapusnya air mata yg terlanjur jatuh dengan gerakan sekenanya, berharap tak satupun pengunjung warung kopi itu memperhatikannya. Ah, perempuan2 sexy pengunjung mal yg lalu-lalang di depan mereka jauh lebih menarik daripadanya, begitu desis hatinya. sebuah senyum tipis membawanya bersyukur, jelaslah sudah, aturan ALLAH Yang Maha Indah bagi muslimah utk berjilbab adalah utk kepentingannya, untuk menjaga kehormatan dan harga dirinya, Alhamdulillah telah genap 3 tahun hidayah itu menghangati hati dan jiwanya.” Semoga hingga akhir hayatku, semoga”, pelan ia berbisik. kepalanya masih tertunduk, persis seperti 1 jam yang lalu, saat ia memutuskan utk duduk sejenak di tempat itu, usai menghadap ALLAH di waktu Ashar yang indah

coffe-latte nya perlahan mendingin, tanda sudah waktunya beranjak pergi..teringat wajah manja, Ajma, putrinya semata wayang. ah, ia janji membelikan donat coklat untuk dibawanya sekolah, besok. maafkan bunda, nak, perlu waktu sejenak untuk sendiri, menghapus wajah sedih saat bertemu kamu. dengan helaan nafas panjang, Zaskia melangkah pergi…

tepat saat Zaskia mengangkat wajahnya utk pertama kalinya, pemuda berkemeja coklat memalingkan wajah, urung mengambil kopi yg semula hendak diangkatnya.

sejenak pandangan mereka bersirobok…

“Subhanallah”, tanpa disadari kedua hati berdesis pelan. Sang pemuda menikmati mata cantik yang terpana di depannya, sedetik…dan mata cantik itu menunduk pelan..

“Robbiy, jaga hatiku”, batin Zaskia, siapa dia?seperti kenal. Ah, ga mungkin. hati2 Zaskia meneruskan langkahnya, jangan lagi, Ya Robb, cukup untuk hari ini. Secepat kilat ia menuju counter donat di sebelah sofa yg baru ditinggalkannya, memesan setengah lusin donat, dan cepat-cepat pergi, sambil menyadari, pandangan pemuda menawan itu menghujam punggungnya. Cepat pergi, Zaskia, hati kecilnya menjerit, sebelum sebuah kepingan hati terakhir terlanjur hancur..Ah, mulai deh lebay, senyumnya simpul, masa baru liat, kenal aja belum, udah khawatir dihancurkan hatinya. Ah, perempuan bodoh, desisnya lembut..

Zaskia perlahan membawa langkahnya pergi, meninggalkan mal megah dan kegundahan hatinya

siapa sebenarnya pemuda itu? dan cerita apa yg akan mempertemukannya denga hati lembut milik Zaskia?

to be continued ya, sahabat….yg nulis mo bobok dulu… 🙂

Kebenaran milik ALLAH, dan ini hanya cerita rekaan belaka, klo ada nama dan lokasi yg sama, yaa afwan deh, beneran ga maksud koq…hehe…see ya

Barakallahu nite, sahabat ^__^

Previous Older Entries